Mereke Bercanda Tentang Aku

Oleh : Dean Al-Gamereau

Orang Indonesia ternyata senang bercanda, bahkan untuk hal-hal yang sangat serius. Mungkin tanda bahagia, atau berusaha tampak bahagia, padahal sebetulnya sedang dilanda duka.

Read More

Salah satu contohnya saja, dari Jawa Barat, karena memang aku pun hadir di tanah Pasundan itu. Nama aku diplesetkan jadi colorna, dibaca kolorna, yang artinya (maaf!) celana kolornya. (celana pendek untuk laki-laki).

Namaku jadi jelek. Padahal, aku diberi nama yang bagus, oleh sebuah badan organisasi dunia yang mengurus kesehatan, World Health Organization (WHO). Namaku itu, Corona Virus Disease, lalu diberi angka 2019 untuk menunjukkan tahun kelahiranku. Namaku diakronimkan jadi Covid – 19, disingkat jadi C-19, atau aku lebih sering dipanggil nama Corona.

Aku, lak-laki atau perempuan? Tetapi, di sebuah grup WA, ada perempuan cantik, berpakaian seragam, tertulis di situ nama Corona. Perempuan dengan rambut sebahu ini, ditaksir 20-an tahun, tampak tersenyum, seperti bangga dengan nama Corona. Aku tak tahu, apakah itu memang nyata nama yang bersangkutan, atau sekadar bercanda, agar Anda tersenyum.

Masih di sebuah grup WA. Seorang perempuan cantik, berkerudung. Wajahnya mulus, putih semurni kasih. Tersirat, dia berdoa, tampak sangat khyusuk, “Ya, Allah, jauhkan aku dari virus, dekatkan aku dengan yang serius”.

Di daerah Jawa Barat pula, Istilah lockdown, sebuah kebijakan pencegahan, diplesetkan juga jadi lauk daun (teman makan yang terbuat dari dedaunan – khas Jawa Barat), sehingga digambarkan, ibu-ibu memasak dedaun setiap hari sebagai teman makan.

Sebuah situs berita, malah rajin mengoleksi berbedaan aku, Covid – 19 dan Dewa 19, sebuah grup band yang digawangi Ahmad Dhani. Ini contohnya, kalau Dewa 19 punya judul lagu “Arjuna Mencari Cinta”, maka Covid -19 disebut “Arjuna Mencari Masker”. Kalau Dewa 19 punya judul lagu “Risalah Hati”, maka Covid – 19 disebut “Susah Hati”. Kalau Dewa 19 punya judul lagu “Bukan Cinta Biasa”, maka Covid – 19 disebut “Bukan Virus Biasa”. Kalau Dewa – 19 punya judul lagu “Separuh Nafas”, maka Covid -19 disebut “Sesak Nafas”. Aku yakin, Ahmad Dhani dan rekan-rekan pun tersenyum ketika orang-orang kreatif ini becanda.

Di sebuah grup WA, aku melihat seorang laki-laki menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan sembako dan uang, setelah terpapar aku. Setelah selesai, lalu ada yang bertanya, “Memang, sudah dapat bantuan sembako?” Lalu dijawab, “Belum! Ini baru latihan mengucapkan terima kasih”.

Untuk yang terakhir ini, aku tahu, mereka serius sedang menunggu bantuan sembako yang memang dijanjikan Pemerintah. Tetapi, ada prosesi administrasi, sehingga bantuan tak begitu saja disalurkan. Aku yakin,”latihan” itu adalah tagihan halus yang dikemas dengan candaan. Mereka bisa bercanda, padahal perut lapar tak bisa ditunda.

Apa yang bisa diperoleh dari semua itu? Bisa tersenyum! Ya,semua bisa tersenyum, sampai lupa ada masalah yang sedang serius dihadapi. Semua itu pula, konon, untuk sekadar mengurangi ketegangan saat-saat menghadapi aku. Kau boleh tersenyum, boleh pula tertawa, tetapi hadis mengingatkan, “Sesungguhnya, banyak tertawa, atau tertawa banyak, itu mematikan qalbu (hati). (Abu Hurayrah, dicatat Imam At-Tirmidzy).

Mati hati, mungkin sama dengan mati rasa, mati kepekaan, hilang sensitivitas. Aku dengar, ini – yang dalam jangka panjang – sesungguhnya jauh lebih berbahaya dari sekedar aku : Covid – 19. Para ulama mengingatkan, akibat mati hati, antara lain, sulit menerima nasihat dan mudah berbuat maksiat. Kau, lebih baik mati gaya daripada mati hati.

Related posts