Banyak yang Salah Paham tentang Kuliah “Online”

1655404shutterstock-139626488780x390Pepatah mengatakan, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Sepertinya, pendidikan bisa mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik adalah sesuatu yang sudah sejak lama dipercaya. Dengan ilmu pengetahuan, bahkan Isaac Newton mampu menemukan kekuatan tak kasatmata dari Bumi, “gravitasi”. Karena itu, kejarlah sang ilmu, tak peduli sejauh mana harus berlayar!

Namun kini, setelah teknologi kian canggih, ilmu tak lagi berbatas jarak dan waktu. Dua hal ini sudah menjadi sebuah relativitas.

Untuk meraih ilmu, orang tak perlu lagi benar-benar “duduk” di dalam kelas. Sekarang, hanya berbekal laptop dan sambungan internet, siapa pun bisa kuliah.

Ya, dalam perkuliahan online, mahasiswa tidak dituntut rutin datang ke kampus. Tak ayal, sistem ini membuka kembali kesempatan mengenyam pendidikan tinggi bagi mereka yang sibuk bekerja. Bahkan, pelayanan kuliah online sudah banyak diadopsi universitas di Eropa dan Amerika.

Walau begitu, karena terkesan “memudahkan”, beredarlah pemahaman salah tentang perkuliahan sistem online. Bahkan, miskonsepsi ini turut terjadi di kalangan para mahasiswa online baru, terutama mengenai dua hal berikut:

Waktu kuliah fleksibel

“Apa arti kuliah online?” tanya Deputy Director Binus Online Learning (BOL) Agus Putranto dalam acara orientasi mahasiswa baru BOL di Kampus Anggrek, Jumat (7/8/2015).

Beragam jawaban dilontarkan. Salah satu peserta menjawab, “Waktu kuliah jadi lebih fleksibel,” sementara lainnya mengatakan, “Tidak perlu datang ke kampus, cukup menggunakan teknologi internet.”

Jawaban mereka banyak terpaku pada kata fleksibel. Padahal, menurut Agus, jika dipahami lebih lanjut, pembelajaran sistem online juga memiliki jadwal ketat yang sama seperti perkuliahan reguler.

Agus menjelaskan, pada sistem online, mahasiswa tetap memiliki jadwal “tatap muka” bersama dosen, biasanya mengunakan video conference. Selain itu, kelas diskusi dalam chat room pun rutin diadakan. Keaktifan mahasiswa di sini masuk dalam penilaian.

 

“Kalau cuma online lalu ditinggal dan tidak aktif berdiskusi, maka Anda dianggap tidak masuk. Nilai berkurang,” kata Agus.

Ia mengingatkan, mahasiswa harus disiplin mematuhi jadwal-jadwal penyerahan tugas, kelas virtual (video conference), diskusi kelompok, dan lain-lain. Tak hanya itu, sebanyak dua kali per semester, mahasiswa wajib melakukan perkuliahan langsung di kampus. Begitu pun dengan jadwal ujian.

“Patut dicatat, hal-hal seperti ini tidak fleksibel,” ucap Agus. Jika tidak patuh, tambahnya, bisa jadi mahasiswa harus menambah semester atau lebih parah, terkena drop out.

Serba dimudahkan

Semua mahasiswa online memang tak punya banyak waktu luang lantaran kesibukan dengan jadwal yang sangat padat. Dalam sambutannya, Director BOL Engkos Achmad Kuncoro bahkan sempat menceritakan bahwa sejak menjadi dosen perkuliahan online, handphone harus selalu siap siaga pada jam-jam malam dan akhir pekan.

“Ada mahasiswa yang telepon pukul 12.00 malam. Ya, kalau saya belum tidur, pasti diangkat,” ungkap Engkos.

Memang, jika menyangkut serba-serbi perkuliahan, dosen biasanya tak keberatan direcoki. Walau begitu, menurut Engkos, hubungan baik ini harus dibangun dua arah. Artinya, mahasiswa juga wajib bertanggung jawab meluangkan waktu mengerjakan dan mengunggah tugas tepat waktu.

“Anda sudah memutuskan kuliah online, maka harus sediakan slot waktu khusus,” kata Agus.

“Kalau tidak (disiplin waktu), bisa gagal lulus,” tambahnya.

Perlu diperhatikan, tambah Engkos, materi perkuliahan sistem online dan reguler sama saja. Tidak ada perbedaan kurikulum. Yang berbeda hanya cara perkuliahannya.

Nah, sekarang tak perlu lagi terbang ke China untuk menuntut ilmu, bukan?

 

Sumber: Kompas.com